Thursday, 17 August 2017

Berita Banyuwangi Hari Ini 17 Agustus 2017 (Detik-detik Proklamasi, Pengibaran Bendera Ukuran Raksasa)

Banyuwangi Seru - Di bawah ini adalah 3 Berita Banyuwangi Hari Ini 17 Agustus 2017


1. Tarian Pelangi Dari Timur Meriahkan Detik-detik Proklamasi di Banyuwangi

BANYUWANGI – Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke -72, dilangsungkan di Banyuwangi dengan khidmat. 

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko, menjadi inspektur upacara dalam upacara yang digelar di Taman Blambangan, Kamis (17/8).

Sekitar pukul 09.55, Wabup Yusuf memasuki tempat upacara. Seluruh Forum Pimpinan Daerah (Formpida) juga telah tiba di tempat ucara, mulai komandan Kodim 0825, Kapolres, Komandan Pangkalan TNI AL Banyuqangi, dan Kepala Kejaksaan Negeri, Ketua Pengadilan Negeri. 


Selain itu, juga ada tokoh-tokoh veteran,  tokoh masyarakat, seluruh kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) turut hadir dalam upacara tersebut.

Upacara yang diawali dengan laporan dari Komandan Upacara, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Imron. Tepat pukul 10.00, sirine detik-detik proklamasi dibunyikan selama satu menit, dilanjutkan naskah proklamasi dibacakan oleh Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara.

Sebagai acara inti adalah pengibaran bendera merah putih. Bendara merah putih berhasil dikibarkan dilangit Banyuwangi dengan sempurna, oleh pasukan pengibar bendera (Paskibra). 


Bertindak sebagai pembentang bendera Reza Wahyu Utomo, dari SMAN I Genteng. 

Sementara sebagai pengerek bendera Agung Rimbawan, SMAN I Genteng dan pengulur Fahmi Aula Aji, SMAN I Pesanggaran. Sedangkan sebagai pembawa bendera Yustika Maidayanti, siswa SMAN I Giri.

Usai upacara, peserta upacara yang terdiri TNI/Polri, PNS, mahasiswa dan pelajar menyaksikan sajian tarian kolosal “Pelangi Dari Timur” yag ditarikan ratusan pelajar. 


Tarian yang menggambarkan kebhinekaan terjalin di Banyuwagi ini dimainkan oleh 600 pelajar tingkat SMP. Mereka menari dengan menggunakan kostum suku khas Using, Jawa, Madura, Bali, Arab dan China.

“Tarian ini, adalah cara Banyuwangi mewujudkan cinta Indonesia. Dalam tarian ini diperlihatkan keberagamanan suku, meski berbeda-beda suku dan agama kita tetap satu Indonesia,” kata Wabup usai upacara.

Ditambahkan, Wabup untuk memupuk rasa nasionalisme agar tidak tergserus jaman, moment peringatan HUT RI yang – ke 72 ini kita jadikan sebagai awal menebalkan cinta tanah air. 


“Makanya dalam peringatan di Banyuwangi rangkaian ini, kita tampilkan atraksi yang beragam mulai mengibarkan bendera raksasa di Masjid Agung hingga pagelaran sendra tari kolosal dengan beragam suku,” pungkas Wabup.

Dalam kesempatan itu, Wabup Yusuf secara simbolis menyerahkan 321 remisi kepada narapidana. Dari jumlah ini, napi yang mendapat remisi 6 bulan ada 99 orang, 2 bulan 66 orang, 3 bulan ada 99 orang, 4 bulan 42 orang dan 5 bulan 15 orang. 

2. Tari Gandrung Banyuwangi Buka Upacara Detik-Detik Proklamasi di Istana

JAKARTA - Penampilan kolosal 216 penari Gandrung asal Banyuwangi mengawali rangkaian upacara Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8). 

Ratusan pelajar SMP dan SMA dari Banyuwangi itu menampilkan Tari Gandrung dengan kreasi baru yang diberi nama Jejer Kembang Menur yang mampu memukau ribuan tamu kehormatan dari seluruh Indonesia dan perwakilan negara sahabat. 

Diawali dengan kemunculan seratusan penari dari sisi kanan, lalu disusul sebagian penari lainnya di sisi kiri. Mereka bertemu di tengah lapangan dengan membentuk formasi tiga baris. 

Seragam yang dominan merah menjadi aksen yang mencolok di tengah rerumputan yang hijau. Kipas berwarna merah dan putih yang menjadi aksesoris seolah menjadi kibaran bendera saat penari bergerak menggelombang. 

Di pengujung atraksi, para penari membentuk formasi 72 sesuai usia kemerdekaan tahun ini, lalu kompak meneriakkan "Indonesia Kerja Bersama” yang menjadi tema besar peringatan kemerdekaan. Aplaus meriah membahana dari tribun kehormatan seusai penampilan penari. Tampak para tamu undangan memfoto para penari, dan tak sedikit yang mengajak swafoto. 

"Tari Gandrung ini pada dasarnya adalah tarian yang menyiratkan nasionalisme. Seusai perang melawan Belanda, rakyat Banyuwangi mengonsolidasikan kekuatan dengan menggunakan media tari agar tak dicurigai oleh penjajah," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. 

Anas kembali mengungkapkan kebanggaannya atas diundangnya anak-anak muda dari Banyuwangi untuk tampil di Istana. Penampilan ini bukan sekadar tampilan seni-budaya saja. Tapi ada pengalaman luar biasa yang dialami anak-anak. 

"Dari desa mereka diundang menuju ke Istana. Saya yakin ini penyemangat mereka untuk terus mencintai seni-budaya kita, sekaligus menjadi pendorong untuk mengejar cita-cita. Mereka jadi punya semangat baru untuk berbuat lebih baik lagi," ujar Anas. 

Dari sisi pengembangan seni-budaya, lanjut Anas, ajang promosi wisata Banyuwangi Festival yang tiap tahun mementaskan Festival Gandrung secara kolosal cukup mampu mendorong regenerasi pencinta dan pelaku seni di kalangan anak muda. 

"Anak-anak dari TK sampai SMA bersemangat belajar seni-budaya, sehingga Insya Allah seni-budaya Banyuwangi tetap langgeng melintasi berbagai zaman," papar Anas. 

Sementara itu, raut tegang yang sejak subuh menggelayut di benak penari, seketika sirna. Penampilan yang cukup memukau tersebut menerbitkan kelegaan dan kebanggan tersendiri di hati para penari. 

Salah satu penari yang paling belia, Marcela Salsa Bella (12 tahun), mengaku awalnya sempat tegang. 

Akhirnya bisa tampil dengan lancar, meski tadi agak grogi saat akan tampil. Kini saya bangga bisa menari di istana. 

Senang sekali, pokoknya tidak terlupakan, jadi tambah semangat belajar, ingin jadi orang yang berguna bagi bangsa," kata pelajar kelas 7 SMPN 1 Genteng itu.

3. Upacara kemerdekaan di Banyuwangi Diwarnai Pengibaran Bendera Ukuran Raksasa

BANYUWANGI – Upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 72 di Banyuwangi berlangsung menarik. 

Upacara yang digelar di halaman Pendopo Kabupaten, Kamis (17/8), tersebut diwarnai penyerahan bendera ukuran raksasa yang selanjutnya bendera tersebut dikibarkan megah di menara Masjid Agung Baiturrahman (MAB). 

Usai upacara kemerdekaan, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko melakukan penyerahan bendera raksasa kepada Komandan Rayon Militer Banyuwangi kota Kapt. (Arh) Surahman. 

Bendera jumbo tersebut berukura 10 meter x 6 meter. Usai diserahkan, bendera tersebut diarak dalam kondisi terbentang lebar oleh forum pimpinan kecamatan. Dari pendopo Kabupaten menuju masjid yang hanya berjarak 500 meter dari lokasi. 

Setibanya di masjid, bendera ini la ngsung dikibarkan di menara masjid yang tingginya mencapai 100 meter oleh petugas dari unsur TNI/POLRI. Ukurannya yang raksasa itu, sontak membuat masyarakat menepi dan mengabadikan proses pemasangan bendera ini. 

"Ini menjadi simbol semangat warga Bumi Blambangan yang tak pernah padam untuk terus melangkah bersama membangun daerah dan bangsa," kata Wabup Yusuf.

Pada upacara HUT Kemerdekaan RI ke 72 ini, bertindak sebagai inspektur upacara Wabup Yusuf. Dalam kesempatan itu, Yusuf meminta agar peringatan HUT ke 72 RI dijadikan momentum untuk kembali bersatu mengayunkan langkah demi membangun kebaikan dan kebesaran bangsa. 

Mari membangun kembali semangat kebersamaan, kita bersatu dalam perbedaan untuk membangun bangsa dan Banyuwangi yang lebih maju. 

"Tantangan apapun yang kita hadapi dari luar, harus bisa kita hadapi dengan memfokuskan diri pada kerja yang nyata untuk menghasilkan output yang berkualitas. Tentunya dengan tetap berpedoman kepada nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman bangsa,” ujar Wabup Yusuf.
 

Banyuwangi Seru

About Banyuwangi Seru

Semoga dengan adanya Blog Banyuwangi Seru ini bisa memberikan sedikit manfaat kepada masyarakat Luas dan Banyuwangi Khususnya.

Subscribe to this Blog via Email :